Selasa, 12 Juni 2012

Dan, Aku Mencintaimu


Tiga kata mengukir prasati janji disetiap butir gerimis.
“Aku sayang kamu!”
Menimbang dan seterusnya. Memperhatikan dan seterusnya. Mencintai dan kaulah pasalnya.
Dan,
Selalu ada rindu yang mengemuka setiap kali ku tulis kata “tanpamu”.
Dan,
Karena cinta itu kata kerja, maka jatuh cinta adalah belajar mencintai.
“Tanpamu” itu semakin menjepit ruang mimpi dan kenyataan ketika aku ditelan kesendirian.
Serahkan saja pada malam, dan biarkan mimpi memulai kisahnya.
Dan,
Begitu tiba di tempatmu biasa bermanja, rindu terluka.
Dan,
Rindu itu terluka karena mengeja inci bahagia yang kau pagutkan dibatas nyata dan mimpi.
Dan,
Ketukan palu itu jatuh kepadaku. Sebagai terdakwa yang mencintaimu.
Dan,
Berangkat dari titik nol, mengejar satu mimpi.
Bersamamu, ini lebih berarti.
Dan,
Hai, kamu. Ku titipkan peluk hangat yang memanas tungku. Lugu menggebu.
Tulus melumat malamku.
Dan,
Dari mataku, bahagia pun memendar tersipu tiap kali kutulis kata “denganmu”.
Dan,
Bahkan tanpa kata “dengan” pun, aku mampu membawa pulang bahagia itu.
Asal ada “mu” di awal dan akhir “ku”.
Dan,
Labih dari pantas aku mencintaimu ketika air matamu menderas karena bahagia itu sendiri.
Dan,
Aku timbun kenangan di lading anggur.
Saat panen tiba, aku ingin berpesta dan mabuk kepayang bersamanya.
Selogis-logisnya, cinta itu menempatkan logika di urutan kedua atau bahkan ketiga.
Nomor satunya: kegilaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar